Author Archives:
Stay Closer
Tanganku seperti tangan biasa. Ia tetap sepasang jumlahnya dengan lima jari di ujungnya. Tetapi apakah kau tahu apa yang membedakannya? Ia adalah penggenggam yang handal. Benar, dia tidak bisa melepasmu. Ia tidak rela jika kau tidak berada di genggamannya. Ia ingin selalu menggenggam, merasakan kasarnya dan dinginnya kulit mu. Dunia kita memang berbeda aku putih kamu hitam. Tetapi itu tidak membuat tangan ini menyerah dan melepaskanmu. Aku tahu dunia hitammu sedang berlalu lalang, tetapi lantaskah hal itu yang membuatmu asik dengan duniamu sendiri? Tidak akan. Tangan ini tidak akan melepasmu. Ia tidak akan melepaskan mu meski ia tahu kau masih asik dengan duniamu. Maafkan tanganku ini. Namun apa daya, aku tidak bisa mengatur tangan ini. Dia yang ingin terus menggenggam dirimu. Aku tidak bisa mengaturnya. Izinkanlah ia tetap menggenggam dirimu selama kau masih melihat indahnya dunia fana.
A GIFT FOR YOUR BIRTHDAY
20th of May 2012
Nyanyian Peri Kecil di Sore Hari
Hujan menahan napas ketika Matahari terbangun. Terdengar alunan lagu langit di segala penjuru mata angin. Saat itu terlihat Manusia duduk di sebuah batu raksasa di tepi danau tak bertepi. Dia melepas lelah setelah berhari-hari melakukan perjalanan tak bertujuan. Dia merapatkan kedua bola matanya menkmati indahnya alunan lagu langit berirama menyejukan jiwa. Dia menghela napas, terdengar suara alto dari atas bianglala. Suaranya terdengar merdu, pohonpunseolah menari mendengar suara nyanyian itu. Burung layang-layang ikut menari mendengar suara itu.
Manusia itu beranjak dari duduknya karena keindahan suara yang indah itu.
“Itukah nyanyian peri kecil dari atas bianglala? Tanya manusia kepada dirinya sendiri.
Dia pun berjalan mendekat. Berharap mecapai ujung bianglala untuk melihat siapa pemilik suara itu. Namun setelah berjalan bermil-mil belum ada tanda-tanda dia akan mencapai ujung bianglala. Seberapa jauhkah ujung bianglala itu? Atau mungkinkah tiada bertepi?
Nyanyian jiwa terdengar semakin merdu. Manusia berlari dengan kencang melesat secepat pikiran. Dia tidak sabar ingin melihat pemilik suara itu yang ia sangka adalah peri kecil. Namun setelah berlari berhari-hari dia belum mencapai ujung bianglala. Di ujung dunia dia menatap keatas. Langit menutup diri dengan mega-mega kelabu. Manusia itu tetap mencari. Dia akan terus mencari. Mencari suara diatas bianglala sore hari.
Dan Pintu Berlapis Emas Bertahta Berlian pun Terbuka
Suatu hari sang pengembara dari tanah antah-berantah menemukan pintu emas nan indah yang dijaga oleh penjaga pintu tua yg bijaksana. Hendaklah ingin sang pengembara masuk ke dalam pintu tersebut. Terjadilah balas kata antara si pengembara dan penjaga pintu.
Pengembara : Cklek..cklek.. wahai penjaga pintu yang bijak, Mengapa pintu indah nan berlapis emas berkilau ini tiada bisa daku buka?
Penjaga Pintu : Karena dikau tidaklah mempunyai izi dari si empu pemilik pintu, wahai pendekar asing.
Pengembara : Adakah dikau saran untuk dapat daku puka pintu nan megah ini?
Penjaga Pintu : Kenalilah dikau pemilik pintu nan gagah ini. Maka tiada mustahil dikau membukanya.
Pengembara : Lain?
Penjaga Pintu : Milikilah kunci bercabang tiga bertahtakan permata merah.
Pengembara : Tidakah tenaga dalam yang daku miliki dapat membuka dengan paksa?
Penjaga Pintu : Semakin dikau paksa, semaki kuatlah pintu merapat, wahai pendekar asing.
Setelah Beberapa saat pengembara mengenali dan mencintai sang empu pintu emas bertahta berlian. Maka kembali mencoba sang pengembara membuka pintu.
Pengembara : Wahai penjaga pintu yang bijaksana, daku ucapkan beribu terimakasih atas saran dikau.
Penjaga pintu : Dikau berhasil mendapatkan salah satu pembuka pintu ini, wahai pendekar?
Pengembara : Benar , wahai penjaga pintu. Lebih baik pula daku mendapat takdir mengenal sang empu lebih jauh dan mendapatkan kunci bercabang tiga bertahtakan permata merah.
Penjaga Pintu : Silahkan dikau masuk wahai pendekar asing yang beruntung, engkau sudah dipilih menjadi orang pilihan oleh si empu pintu ini.
Janganlah Kau Lempar Pisau Itu untuk Kedua Kalinya I
Hidup adalah perjalanan yang sulit, terlebih jika kau hidup di emperan rel kereta api. Disinilah jantungku berdenyut bersama orang-orang terbuang, terasing dan tertindas oleh zaman yang biasa di panggil orang “rakyat jelata”. Jika kau ingin melihat kami sesekali jalan-jalanlah menyisiri rel kereta api, kelak kau pun akan menemukan kampung tempatku tinggal. Itupun kalo kau bosan jalan-jalan ke mall, Hugos, ataupun Embassy. Sangat mudah ditemukan carilah kampung yang terbuat dari kardus bekas bernama “kampung kardus”. Jika kau mampir pasti akan ku jamu dengan kesedihan, kemlarata, caci makian dan penderitaan. Kata simbokku,”Urip kuwi pilihan le.( hidup itu pilihan nak). Memang hidup itu pilihan tetapi bagaimana jika pilihan itu hanya satu? Gimana caranya milih?
Tanpa jam beker Quartz pun aku bisa bangun pagi tidak seperti orang-orang besar yang selalu membanting jam bekernya. Tepat jam 04.00 aku pasti terbangun, ketika tanah bergetar dan rumah hampir roboh karena kereta argolawu jurusan solo-jakarta melintas di depan teras rumah kardus ku. Tidak jarang kereta itu menerbangkan beberapa tempok kardusku. Ku buka mataku dan berusaha meninggalkan cerita mimpiku yang sangat manis, memang mimpiku selalu kubuat manis karena hanya mimpiku yang terasa manis. Menyesal rasanya memotong cerita mimpiku dan melanjutkan kehidupan yang pahit lagi. Tapi mau bagaimana lagi masa mimpi terus kerjaanku. Bisa mampus badan ini kalau tidak di kasih makan.
“Bajingan kamu Karjo, tidur sama berjudi saja yang ada dipikiranmu. Sana cari duit, anakmu sudah hampir mampus nggak pernah di kasih makan, kata seorang wanita.
“iya cerewet nanti aku cari duit yang banyak buat kuburin kamu, kata suaminya.
“Bangsat kamu, kata wanita itu dengan serak.
Terdengar piring pecah di banting ke tanah. Caci makian itu yang selalu kau dengar setiap pagi. Sepertinya itu sudah menjadi jadwal pasangan suami istri yang tinggal di sebelah rumahku. Memang jadi suami itu susah tidak seperti artis yang bisa gonta-ganti perempuan kalo sudah bosan. Namanya juga orang berduit, mau perempuan bahenol, langsing perawan, janda kayak apapun bisa di dapatkan.
Aku keluar dari rumah kardusku, sambil mengucek-ucek mata, kuhirup udara pagi tercium aroma khas got mapet dan sampah busuk, segar sekali rasanya. Aku ambil gayung berhias lumut yang berisi sabun dan sikat gigi. Aku berjalan ke pinggir sungai untuk antri di wc umum kampungku.( bersambung…)
Anak Bajang Menggiring Angin
Anak bajang
menggiring angin
naik kuda sapi liar
ke padang bunga
menggembalakan kerbau raksasa
lidi jantan sebatang
disapukan ke jagat raya
dikurasnya samudera
dengan tempurung bocor
di tangannya
di gelaran sayap garudayaksa
naik anak bajang
ke bukit hardacandra
janur gebang berayun-ayunan
anak bajang berarak-arakan
dalam iring-iringan panjang
para pencagakan dan kemamang
di belakang riang memanjang
barisan warudhoyong dan singabarong
dhenokongkrong dan dhadhungwinong
berkebit-kebit di ekor
anak-anak carubawor
paro petang bulan purnama
lelap tertidur anak bajang
dekat perapian kundakencana
dibelai gading gajahmeta
dan bisa permata nagaraja
dengan tikar daun runya
Arti Seekor Lalat bagi Sekuntum Bunga Bangkai
Menangis.
Ya hanya dapat menangis. Itulah yang aku lakukan ketika aku menyadari bahwa tuhan menakdirkan aku dengan wujud bunga bangkai. Iri rasanya melihat teman-temanku yang berwarna-warni serta semerbak bau wanginya. Berganti-ganti pasangan dengan para kupu-kupu indah dengan mudahnya. Bernyanyi dan menari adalah kegiatan yang mereka kerjakan sepanjang hari. Mereka tidah pernah kurang pujian bahkan dijadikan simbol cinta yang romantis bagi umat manusia. Hidup mewah bertempat tinggal di taman yang megah tempat para pemuda-pemudi memadu kasih.
Tetapi lihatlah aku. Lihat. Berwarna gelap dan berbau busuk. Selalu dikucilkan di tempat terpencil sendiri. Tidak ada satupun teman-temanku yang mau berada di sampingku bahkan menyapaku untuk menanyakan kabar. Apalagi bermimpi jikalau ada satu ekor saja, satu saja kupu-kupu yang nyasar dan hinggap di kelopakku. Seperti pungguk merindukan bulan pasti. Tuhan, dosa apa yang aku lakukan sampai Engkau tega mengutukku dengan siksa pedih ini.
Suatu hari yang cerah aku terbangun ketika ada sesuatu hinggap di kelopakku. Aku tak percaya ada seekor lalat yang hinggap di kelopakku bahkan dia menyapaku. Terimakasih Tuhan ternyata Engkau masih sayang kepadaku. Seekor lalat hijau mungil yang Engkau beri kepadaku sekarang menjadi teman baikku. Meskipun ia dikatakan jelek, jorok, dan menjijikan aku tak mau ambil pusing dengan itu. Aku akan tetap mencintainya. Aku akan mencintai kekurangannya.
Tunggu Aku Barang Beberapa Detik Malaikatku
Setelah dua ciptaan Tuhan itu bertemu agaknya si manusia terpana oleh keindahaan sang malaikat. Dia membulatkan tekad yang ada di dalam hatinya untuk selalu berada di samping sang malaikat. Dia sudah kembali menggunakan telpon genggamnya untuk sekedar menanyakan kabar sang malaikat. perasaan yang mula-mula di hancurkan oleh sang iblis kembali dia susun sedemikian rupa untuk dia jalani bersama sang malaikat. nampaknya bunga-bunganya mulai kembali bermekaran.
Saat dia tidak sengaja melewati kalender dia berhenti sejenak. Ternyata beberapa hari sudah tanggal 16 April. Kemudian dia menekuk lutut nya dan berdoa “Tuhan tolong jaga malaikat yang Engkau berikan tadi sore dan sampaikan salamku untuknya.
Dia kembali mengetik di telpon genggam bututnya
“Tunggu Aku Barang Beberapa Detik Malaikatku…
Iblis Pergilah Malaikat Datanglah
Jum’at hari yang dianggap sakral oleh sebagian penduduk di pulau itu, adalah hari di mana si manusia merasa bangkit lagi setelah cairan semangat dan kebahagiaannya di renggut oleh sang Iblis. Setelah hati manusia sempat redup (Tentu saja manusia yang mempunyai hati karena Iblis tidak punya) karena sang iblis. Pada hari jum’at 6 April 2012 secercah cahaya masuk dalam telpon genggam miliknya. Manusia itu terpana melihat cahaya yang sangat menggetarkan hati yang belum pernah dirasakannya karena dia selalu dalam pelukan kegelapan sang iblis. Dengan gemetaran manusia itu memberanikan diri untuk melihat apa isi cahaya itu.
1 Pesan diterima
“Maukah engkau menemaniku menonton film? Salam malaikat
Dengan mulut menganga si manusia mencubit pipinya untuk memastikan dia tidak bermimpi. Tuhan memang Maha adil kepada makhluknya dia memberikan cahaya setelah manusia menempuh kegelapan. Sama juga yang dirasakan oleh Raden Ajeng Kartini dirasakan pula oleh manusia itu. Dengan air mata yang berceceran manusia itu membalas pesan dari malaikat itu.
“Aku pasti akan menemanimu. Salam Manusia
Di negeri atas langit Malaikat itu tersenyum simpul.
Membusuklah Mulut-mulut Iblis
Jam menunjukan pukul 14.20 ketika itu seekor iblis berbentuk kambing betina mengirim pesan singkat dari telepon genggam miliknya. Dia mulai mengetik dengan gairah yang membara untuk mematikan manusia yang sedang berbunga-bunga.
“Aku pengen kamu beri waktu untuk sediri, aku belum yakin hatiku. Aku belum bisa move on, lelaki sebelum kamu masih ada membayangi hatiku. Aku ingin sendiri dulu.
“Krinnggggggg……….
1 pesan diterima
Manusia yang sedang berbunga-bunga itu melotot tidak percaya tulisan yang di terimanya. Dia membanting telepon gengam miliknya yang baru berusia seumur jagung. Padahal dia sudah berusaha membeli telepon itu agar dia bisa bercakap-cakap dengan si iblis itu.
“Sialan kewan alas, mulut manusia itu komat-kamit mengucapkan sumpah serapah.
Manusia yang kesal itu membalas pesan itu.
“Kenapa? Cinta kamu ternyata palsu hanya di mulut tidak sampai kehati. Tulus mu hanya di MULUT!.
“Kringgggggggg………
1 pesan balasan diterima
Iblis yang sedang menghisap cairan kesenangan manusia lain itu tertawa terbahak-bahak.”Dasar manusia bodoh, pantas saja di buat lagu berjudul Manusia Bodoh oleh Ada band, kata si Iblis.
Yogyakarta, Beberapa hari sebelum Ujian Nasional 2012


